Kajian tentang komunikasi politik sudah banyak dilakukan, akan tetapi yang berkaitan dengan organisasi sosial keagamaan masih jarang ditemukan. Begitupun kajian tentang organisasi sosial seperti Muhammadiyah sudah banyak dilakukan, akan tetapi buku yang secara spesifik membahas Muhammadiyah dalam perspektif komunikasi politik, lebih khusus lagi wacana politik yang dikembangkan oleh ketua umumnya belum banyak penulis temui. Disinilah, penulis berharap buku ini dapat menjadi sumbangsih mengisi mengisi kekosongan ruang dan memperkaya khazanah, serta memberikan warna lain dalam kajian tentang relasi Muhammadiyah dan politik, sebagaimana di kemukakan oleh Alexis de Tocqueville, bahwa organisasi kemasyarakatan non politik biasanya memiliki konsekuensi politik yang vital sebab mereka bisa menggunakan institusi inter relasi untuk menggagas hubungan antara anggota masyarakat, partai politik, dan pemerintah. Fungsi-fungsi organisasi sosial ini tentunya sangat berarti dalam membangun kehidupan demokrasi. (Alexis de Tocqueville, 1969)
Pernyataan Alexis de Tocqueville yang penulis kutip di atas nampaknya cocok untuk menggambarkan rentang sejarah relasi Muhammadiyah dan politik. Memang, Muhammadiyah adalah organisasi sosial keagamaan yang non politik, akan tetapi sebagai gerakan Islam yang mempunyai jumlah pendukung yang sangat besar, tentu Muhammadiyah memiliki political magnitude yang sangat besar pula. Pada sisi lain, organisasi-organisasi yang secara eksplisit tidak memiliki tujuan politik biasanya memiliki keterlibatan yang lebih besar dalam politik (Gabriel A Almond and Sydney Verba, 1989; 245).
Buku Komunikasi Politik Struktural Vs Kultural ini mencoba mengupas tentang komunikasi politik struktural yang tergambarkan dalam wacana politik yang dikembangkan oleh M. Amien Rais yang memimpin Muhammadiyah pada tahun 1994-1998 yang merupakan era akhir kekuasaan rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada sisi lain, buku ini juga menyajikan tentang komunikasi politik kultural yang tergambarkan dalam wacana politik A. Syafi’i Ma’arif pada tahun 1998-2005. Kedua era ini memiliki konsteks yang berbeda, dimana era Orde Baru dicirikan dengan tirani kekuasaan yang otoriter, sementara era reformasi dicirikan dengan demokrasi dan keterbukaan.
Komunikasi Politik Struktural VS Kultural: Analisis Kritis Wacana Politik M. Amien Rais dan Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam Dinamika Komunikasi Politik Muhammadiyah
Original price was: Rp95.000.Rp85.000Current price is: Rp85.000.
Buku Komunikasi Politik Struktural VS Kultural: Analisis Kritis Wacana Politik M. Amien Rais dan Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam Dinamika Komunikasi Politik Muhammadiyah, yang ditulis oleh Dr. M. Nurul Yamin, M.Si. Dalam buku ini diketengahkan tentang komunikasi politik dari kedua tokoh sentral, yakni Prof. Dr. Amien Rais, MA dan Prof. Dr. Syafi’i Maarif, MA yang kedua-duanya mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Adapun jumlah jumlah keseluruhan wacana yang diperoleh penulis ada 354 dengan perincian 231 wacana politik Muhammadiyah era kepemimpinan M. Amen Rais pada tahun 1994-1998, dan 123 wacana politik Muhammadiyah era kepemimpinan A. Syafi’i Ma’arif pada tahun 1998-2005. Pengumpulan data juga dilengkapi dengan wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh Muhammadiyah yang penulis anggap memiliki keterlibatan langsung dalam kepengurusan Muhammadiyah sebagai upaya untuk merekonstruksi berbagai kejadian yang berkaitan dengan faktor kausal, kondisional, konteksual, dan berbagai komponen lain yang terkait sehingga memberikan gambaran komunikasi politik Muhammadiyah dan wacana politik yang dikembangkan oleh ketua umumnya. Dengan harapan buku ini dapat dijadikan rujukan dan menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam menelaah dalam komunikasi politik, baik secara structural maupun kultural.



Reviews
There are no reviews yet.